I wrote this on June 2007, I just re-post it here :)
Ada sebuah pintu, pintu yang biasa saja, yang terpasang pada sebuah rumah di tepi jalan. Untuk apakah sebuah pintu dipasang? Kurasa untuk melindungi rumah tersebut, sebagai pertahanan pertama rumah tersebut. Bila ada orang yang datang, pintulah yang pertama mengetahui siapa orang tersebut. Dan pintu memberitahukan pada rumah bahwa ada seseorang datang. Karena pintu itu berfungsi sebagai pertahanan utama bagi rumah itu, ia begitu menyatu dengan rumah tersebut sehingga mengetahui kehendak dan perasaan rumah tersebut.
Nah, kembali pada pintu itu sendiri, ia sangat terkenal di kalangan masyarakat. Bukan karena ia terbuat dari bahan yang unik dan mahal, tapi karena persepsi masyarakat mengenai pintu itu sendiri. Semua orang yang pernah lewat di depan pintu itu mengatakan bahwa pintu itu begitu tertutup. Tampaknya pintu itu dibuat sedemikian kokohnya dan dikunci sedemikian ketatnya supaya tak seorangpun dapat memasuki rumah tersebut. Hal itu pula yang membuat tak seorangpun pernah membuka pintu itu dan bertandang ke rumah tersebut.
Setiap kali ada orang baru yang lewat tepi jalan itu, mereka tertarik untuk bertandang. Namun banyak diantara mereka langsung mengurungkan niat mereka karena berbagai hal. Misalnya, mereka pernah mendengar dari anggota masyarakat yang lain bahwa tak ada yang pernah berhasil membuka pintu itu, atau karena mereka sendiri merasakan bahwa pintu ituu begitu tertutup, atau mereka merasakan bahwa baik pintu maupun rumah di balik pintu tersebut tidak menghendaki kedatangan mereka, atau bisa juga karena mereka melihat bahwa pintu itu terkunci dengan begitu ketatnya.
Ada juga yang berusaha mendekat, meyakinkan diri bahwa mereka bermaksud baik, bahwa mereka selama ini begitu dicintai orang-orang, bahwa tak ada yang tak dapat mereka ajak berteman, bahkan ada yang begitu arogan berke-yakinan kalau mereka tak pernah ditolak, tapi ada juga yang hanya karena iseng coba-coba seperti mengikuti undian berhadiah. Apapun alasannya, mereka pernah mencoba untuk mendekati pintu tersebut, melihat-lihat sebentar, dan kemudian menarik kesimpulan bahwa pintu itu takkan pernah terbuka. Ada juga diantara mereka yang bahkan “dapat merasakan” bahwa rumah tersebut tak menghendaki mereka untuk bertandang.
Hal ini sungguh membuat tak seorangpun pernah bertandang ke rumah tersebut. Tak seorangpun pernah mencoba mengetuk pintu itu ataupun mencoba menarik handle pintu tersebut, kalau-kalau ia dapat terbuka. Dan pintu itu benar-benar menjadi sebuah pintu yang sangat tertutup dalam benak masyarakat.
Pintu itu kemudian menjadi perbincangan yang hangat di kalangan masyarakat. Ada yang bilang pintu itu sangat arogan dan egois. Ada yang bilang pintu itu mungkin memiliki pengalaman pahit yang membuat ia tak mengijinkan seorangpun untuk membuka pintu tersebut. Ada juga diantara masyarakat yang berkata bahwa sebenarnya mereka sangat menyukai pintu dan rumah itu, bahwa mereka ingin berkenalan dan dekat dengan pintu maupun rumah tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka telah mencoba cara apapun, namun pintu itu tak terbuka juga.
Dan setelah aku teliti baik-baik cerita-cerita mereka, dan setelah aku pikirkan kembali semua fakta yang ada, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dalam cerita masyarakat tersebut. Jika mereka sungguh-sungguh menyukai pintu dan rumah tersebut, kenapa mereka tak pernah berusaha untuk mendekati pintu itu? Kalau mereka berkata mereka telah mencoba segala upaya untuk mendekati dan membuka pintu tersebut, sebenarnya tak seorangpun yang pernah mengetuk ataupun mencoba menarik handle pintu tersebut. Bisakah itu dinamakan berusaha?
Dan bila mereka tak pernah mencoba masuk, validkah jika mereka mengatakan bahwa pintu dan rumah tersebut menolak mereka? Bila mereka memang belum mengenal pintu ataupun rumah tersebut, kenapa mereka dengan seenaknya mengatakan bahwa pintu tersebut memiliki pengalaman pahit? Dan yang terpenting, benarkah pintu itu memang tertutup? Benarkah pintu itu memang terkunci? Benarkah pintu itu memang tak mengijinkan seorangpun masuk? Benarkah rumah tersebut tak menghendaki seorangpun bertandang? Dimanakah jawabannya bisa kudapatkan?
Masyarakat mengatakan bahwa pintu itu dikunci. Benarkah mereka melihat-nya? Kalaupun benar mereka melihatnya, benar-benar nyatakah penglihatan mereka? Ataukah sebagian penglihatan mereka dipengaruhi oleh persepsi awal mereka dan juga dipengaruhi oleh cerita orang-orang, sehingga pada akhirnya persepsi itu memvisualisasikan sebuah kunci pada pintu tersebut dalam penglihatan mereka?
Mungkin ini hanya perasaanku, mungkin ini hanya dugaanku, ataupun hasil pemikiranku, atau apapun itu namanya. Tapi, mungkinkah sebenarnya kita semua sampai saat ini salah? Mungkinkah sebenarnya pintu itu mengharap-kan seseorang untuk datang? Mungkinkah sebenarnya pintu dan rumah itu begitu merasa kesepian dan terbiasa hidup sendiri sehingga orang-orang yang datang merasa bahwa mereka tak dikehendaki? Mungkinkah sebenarnya pintu itu sama sekali tak terkunci dan rapuh? Mungkinkah rumah itu sesungguhnya mengharapkan ada seseorang yang mengetuk pintunya, membukanya, dan bertandang?
Mungkinkah setiap kali ada yang lewat depan pintu itu, jantung rumah tersebut berdetak demikian kencang, kalau-kalau orang tersebut akan mampir, dan membuka pintu itu? Mungkinkah sebenarnya rumah di balik pintu tersebut menangis setiap kali ada orang yang datang, namun batal mengetuk ataupun membuka pintu tersebut? Mungkinkah selama ini pintu dan rumah itu sesungguhnya sangat sedih dengan kesendirian mereka selama ini?
Kalau memang benar itu yang terjadi, salah siapakah semuanya ini? Mengapa semuanya menjadi seperti ini? Apakah orang-orang itu benar-benar ingin membuka pintu itu? Apakah mereka benar-benar telah berusaha membuka-nya? Karena selama ini, yang kulihat adalah bahwa mereka hanya membica-rakan pintu dan rumah itu, menceritakan betapa mereka ingin membuka pintu itu dan bertandang, betapa mereka tertolak dan tak dapat masuk, betapa mereka kecewa terhadap pintu dan rumah tersebut.
Dan inilah jawaban dari pintu dan rumah yang ada di baliknya itu, yang mereka serukan sambil berurai air mata. Kami adalah satu, pintu adalah rumah dan rumah adalah pintu. Pintu melihat siapa yang lewat dan yang datang, rumah merasakan yang pintu lihat, dan kami menarik kesimpulan dari semuanya itu. Kami tak pernah merasakan bahwa masyarakat begitu menyukai kami, kami tak pernah merasakan bahwa mereka sungguh-sungguh ingin dekat dengan kami maupun bahwa mereka ingin bertandang. Kami tak pernah melihat ataupun merasakan hal itu.
Setiap kali ada yang lewat, pintu selalu berkata padaku: ‘‘Ada yang datang, semoga ini orangnya.’’ Dan tiap kali mereka hanya lewat, kami sama-sama sedih. Setiap kali ada yang datang, pintu selalu memberitahukan hal itu padaku. Kami sama-sama berharap agar mereka membuka pintu yang tak pernah terkunci itu dan bertandang. Yah, pintu ini memang agak sulit dibuka, namun bukan karena kami tak mau dibuka, juga bukan karena pintu itu dikunci. Hanya saja, sudah begitu lama tak ada yang membukanya, karat menyebabkan pintu itu agak berat. Untuk membukanya, memang dibutuhkan kemauan dan usaha yang sedikit lebih dibandingkan untuk membuka pintu lain yang sering dibuka dan ditutup.
Kami sungguh berharap, suatu saat nanti ada seseorang yang datang, mengetuk pintu, membukanya, dan bertandang. Kami sungguh mengharapkan hal itu. Karena kesendirian ini telah begitu menyiksa kami. Kesendirian ini telah membuat kami begitu sedih. Doa kami dari hari ke hari tetap sama: ketuklah...ketuklah... dan bukalah... kami menantikanmu..., lihatlah kami apa adanya, terimalah kami apa adanya, sukailah kami apa adanya, dan kenallah kami apa adanya.
Karena sesungguhnya kami tak tahu sampai kapan kami dapat menanggung semuanya ini sendirian. Kami telah terlalu letih menanggung semuanya sendiri, juga terlalu letih menanggung kesendirian ini. Akankah kami akan tetap sendiri sampai kesendirian ini meruntuhkan kami? Akankah karat itu akan benar-benar membuat pintu benar-benar terkunci, tak dapat dibuka lagi? Tak dapatkah kami memiliki suatu akhir yang bahagia? Kami...ka..kami... .
Dan pintu maupun rumah itu tak dapat meneruskan kalimat mereka. Mereka tak mampu lagi membendung air mata yang selama ini tertahan. Jadi, adakah diantara kalian yang sungguh-sungguh menghendaki mereka, apa adanya mereka? Adakah diantara kalian yang sunguh-sungguh mau mengeluarkan usaha yang sungguh-sungguh untuk membuka pintu tersebut dan bertan-dang? Adakah diantara kalian yang mau mengisi kekosongan mereka, mengu-sir kesendirian mereka, dan menghapus kesedihan mereka?
Dan jika kamulah orangnya yang mau dan mampu untuk melakukannya, segeralah datang. Segeralah temui mereka, karena aku tak tahu sampai kapan mereka benar-benar dapat bertahan. Jangan sampai kamu terlambat menemui mereka. Terima kasih... .
Saturday, May 14, 2011
Monday, March 1, 2010
What To Tweet?

Good news is, i finally make a decision: create a twitter account. Bad news is, i don't really know what to tweet. LOL i mean it. I have this blog for writing my book review (mostly) and sharing my life-story (sometimes), i have another blog to review movies and share my life-story (in regular basis), i also have goodreads account to compile all books i've read and going to read.
I have YM id to chat with friends, also have plurks id which is a bit inactive now, since i don't really sure what should i read there, i simply just reading my friend's plurk. And now i create a twitter account! What the hell is i were thinking that time?
Oh well, duh, since it's all happened, i asked you guys here: in your opinion, what should i tweet? FYI, i haven't really familiar with twitter and its capability. Haha..
Saturday, April 4, 2009
The Spook's Apprentice
Judul Buku: The Spook's Apprentice
Pengarang: Joseph Delaney
Penerbit : Penerbit Matahati
Cetakan I : Maret 2009
Genre : Dark Fantasy
Sinopsis:
Not to be read after dark!
Bertahun-tahun Gregory tua telah menjadi seorang spook, melindungi penduduk lokal dari kejahatan yang muncul di malam hari. Kini waktunya dia mencari seorang penerus. Dia pernah memiliki dua puluh sembilan murid: beberapa orang gagal, sebagian menyerah, dan lainnya tewas dalam tugas. Hanya Tom Ward yang tersisa, harapan terakhirnya.
Ketika seorang gadis bersepatu runcing memanfaatkan Tom untuk membebaskan Mother Malkin - tukang sihir paling jahat di County - horor pun dimulai...
__________________________________
Satu lagi cerita seru dari Penerbit Matahati! Buat yang suka cerita-cerita misteri atau yang sedikit berkesan gelap gitu, ini cocok banget buat kalian!
Sinopsisnya sudah ada di atas, tapi boleh donk, aku sinopsisin sendiri? Hehehe... Tersebutlah Tom Ward, putra ketujuh dari putra ketujuh. Atas ide ibunya, dia menjadi murid seorang spook. Ibunya yakin bahwa Tom Ward akan menjadi spook berikutnya, bahkan spook terhebat sepanjang sejarah.
Kenyataannya, Tom Ward masih sangat muda. Banyak yang harus dipelajarinya sementara waktu terus bergulir, masalah pun datang silih berganti. Suatu ketika, ia bertemu dengan seorang gadis bersepatu runcing yang kemudian membawanya ke dalam suatu masalah besar. Bukan hanya nyawa Tom yang terancam, tapi juga nyawa seluruh keluarganya! Mampukah Tom -murid spook yang masih hijau- mengatasinya?!
Hehehe baca aja yah, untuk novel ini, aku memberi 3.5 bintang dari 5 bintang. Pokoknya terlalu seru untuk dilewatkan! Buruan ke toko buku, beli, dan baca ya. Nanti sama-sama dibahas di sini.
Monday, October 20, 2008
Duality of My Memory

Well, how to say, how to start... ^^; Uhm, okay, it started last night, when i have some conversations with a friend. Actually, it's more to.. i share story to her, more to a one way conversation. After all those sentences i blunted out, my friend just say: "Don't you think you memorize too much?"
That starts a deeper thinking, reconsidering if that's true or not. To be honest, i always see myself as a person who has short-term memory. I tend to forget things easily, especially names. But to think about what my friend just said... ya, in some parts, i have to admit, i memorize a lot. I can remember acts that happened a very long time ago, like when i was only 3 years old or even younger. I don't know, some acts crossed my mind just like that, not evadable.
Which one is better: memorize a bit or memorize a lot? I hate to say, both has its own benefits. The "memorize-a-bit" me makes me easier to forget hard times, easier to forgive, easier to let go. The "memorize-a-lot" me makes me value more things, enables me to go deep inside myself and track down some things/feelings.
What can i say, i have both types of memories in my head. I just have to deal with them well. I hope i can synchronized them well. LOL.
Friday, October 3, 2008
LASKAR PELANGI
An introduction to a movie and a tetra-logy novel by Andrea Hirata: LASKAR PELANGI. At first, Laskar pelangi is a novel, telling about Andrea-and-friend's childhood, added by well... some dramatization, i guess. ^____^ But those are great novels!
Title of those novels are:
Book 1: Laskar Pelangi (Rainbow's Army)
Book 2: Sang Pemimpi (The Dreamer)
Book 3: Edensor (Edensor)
Book 4: Maryamah Karpov (Maryamah Karpov) -not yet published-
Laskar Pelangi.
About 10 children: Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, A Kiong, Syahdan, Bocek, Kucai, Trapani, and Harun, who comes from non-wealthy family, struggling to get proper education. This book mainly describing about how they struggle at their school.
Sang Pemimpi.
This book mainly telling us about Ikal and his brother struggling to reach their dream after they graduate from SD. Muhammadiyah (elementary school). Their effort takes them to Sorbonnes, Europe, granted a scholarship in University of Sorbonnes.
Edensor.
This book mainly describing what they've through while they're in college. And, telling about their journey around Europe, backpacking.
Maryamah Karpov.
Haven't published yet, from the rumor, i think this book will tell us about the searching of Ikal's first love: A Ling.
These books are Indonesian best seller. That's why, at later, they decided to make it into a movie. The movie: Laskar Pelangi, is only filming the first book. It simplify the novel but you can see the beauty of Indonesia, the simplicity of small town, some Indonesian cultures, and some laughing. ^_____^
Here i put two links about Laskar Pelangi. The first link is a video clip of Laskar Pelangi's original soundtrack. It sang by Nidji, a famous band from Indonesia, a rising star, i might say. And the second link is about the movie itself. Please enjoy ^___^
http://www.youtube.com/watch?v=FwlKSKdsLG4
http://www.youtube.com/watch?v=fFZVM8EDbKA
Title of those novels are:
Book 1: Laskar Pelangi (Rainbow's Army)
Book 2: Sang Pemimpi (The Dreamer)
Book 3: Edensor (Edensor)
Book 4: Maryamah Karpov (Maryamah Karpov) -not yet published-
Laskar Pelangi.
About 10 children: Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, A Kiong, Syahdan, Bocek, Kucai, Trapani, and Harun, who comes from non-wealthy family, struggling to get proper education. This book mainly describing about how they struggle at their school.
Sang Pemimpi.
This book mainly telling us about Ikal and his brother struggling to reach their dream after they graduate from SD. Muhammadiyah (elementary school). Their effort takes them to Sorbonnes, Europe, granted a scholarship in University of Sorbonnes.
Edensor.
This book mainly describing what they've through while they're in college. And, telling about their journey around Europe, backpacking.
Maryamah Karpov.
Haven't published yet, from the rumor, i think this book will tell us about the searching of Ikal's first love: A Ling.
These books are Indonesian best seller. That's why, at later, they decided to make it into a movie. The movie: Laskar Pelangi, is only filming the first book. It simplify the novel but you can see the beauty of Indonesia, the simplicity of small town, some Indonesian cultures, and some laughing. ^_____^
Here i put two links about Laskar Pelangi. The first link is a video clip of Laskar Pelangi's original soundtrack. It sang by Nidji, a famous band from Indonesia, a rising star, i might say. And the second link is about the movie itself. Please enjoy ^___^
http://www.youtube.com/watch?v=FwlKSKdsLG4
http://www.youtube.com/watch?v=fFZVM8EDbKA
Tuesday, September 30, 2008
Great Link of Two Great Guys
Here, i just want to share a link to a blog belongs to two great guys. Hehehe, they're really funny. They're wellknown for their lipsync skill. While making lipsync video, not only they do lipsync, they also make weird and funny mimic, and sometimes, wear costumes. Hehehehe... really cheer up the day with laughing.
So, here it is... just visit their blog to dig up what they have done. ;)
http://www.twochineseboys.blogspot.com
So, here it is... just visit their blog to dig up what they have done. ;)
http://www.twochineseboys.blogspot.com
Saturday, August 23, 2008
Poet: To Where The Eagle Flies
To where the eagle flies
Heading to east, he directs his eyes
Praying for sun to rise
Shines whole land, garden, and farms
To where the eagle shouts
Heading to east, he move his wings
Gathers all workers on streets
To work the land, garden, and farms
To where the eagle stay
Heading to the hill, he sits his body
Sharing braves, power, and knowledge
Prepare a start of a bigger one
To whom the eagle bows down
On the gate of east he prepare himself
Waiting for his master, he stand still
Remain in silent yet faithful
To where the eagle flies, I voice my prayer
To where the eagle shouts, I step my feet
To where the eagle stay, I work my hands
To whom the eagle bows down, I give my all
Heading to east, he directs his eyes
Praying for sun to rise
Shines whole land, garden, and farms
To where the eagle shouts
Heading to east, he move his wings
Gathers all workers on streets
To work the land, garden, and farms
To where the eagle stay
Heading to the hill, he sits his body
Sharing braves, power, and knowledge
Prepare a start of a bigger one
To whom the eagle bows down
On the gate of east he prepare himself
Waiting for his master, he stand still
Remain in silent yet faithful
To where the eagle flies, I voice my prayer
To where the eagle shouts, I step my feet
To where the eagle stay, I work my hands
To whom the eagle bows down, I give my all
Friday, August 22, 2008
Indonesia Dangerously Beautiful 2
My friend made a mini slide showing some beauty of Indonesia. Here's the link: http://www.youtube.com/watch?v=OEh-guCfWfI
Happy watching, and be careful for its danger, coz it's really beautiful ;P
Happy watching, and be careful for its danger, coz it's really beautiful ;P
Thursday, August 14, 2008
Travel Warning: Indonesia DANGEROUSLY Beautiful!
Picture above was taken from http://indonesiabertindak.multiply.com. While pictures below were taken by myself, at Bali, several years ago.
Indonesia is dangerously beautiful to be missed by anyone. Except you're a person who afraid to be overwhelmed with wonderful natures, richness of cultures and sub-cultures, wide range of food and beverages, buildings, and even its history, you definitely won't missed Indonesia.
Those pictures above, are only some part of Bali, one small island among thousands of Indonesian island. Picture 2, 3, and 5 were taken in "Lake Bedugul, Bali" while picture 4 was taken in "Kintamani, Bali".
Bali island already well known for its exoticism, beauty, and nature. And some part of the world misunderstood Bali as a country, not as a part of Indonesia. Even i honestly agree that Bali is a wonderful place to visit, Indonesia has much more places that deserve a visit. Next time, if i got some shots from another place in Indonesia, i'll upload them here. As a prove that Indonesia really is dangerously beautiful.
Despite of some crowd and messes happened here, Indonesia isn't that dangerous until it need to be avoided. Well, like a saying "An experience worth much more than thousands of words", i'll just stop here, let you take a visit, and let you experience the "danger" of Indonesia by yourself. ;)
PS: This blog entry is inspired by the movement of some Indonesian, which their site can be found here. You can find more information on that site. Happy adventuring!
Thursday, July 24, 2008
Missing... (Kangen)
Dinten niki, kula ningali blog ingkang dipuntulis ngagem basa jawa. Kula dados kangen bebasan. Hehehe... katah ingkang mboten kula elingi. Basa jawa niku wonten tigang macem: krama inggil, campuran, lan andhap asor. Menawi ditingali luwih khusus, basa jawa saged digolongaken dados 7, piturut tingkat kasopananipun lan piturut kagunaanipun. Sayangipun, kula mboten saged bebasan (ngangge basa alus) malih. Ingkang tesih kula elingi nggih bebasa ngoko (bebasa kasar) amarga sedinten-dinten, kula lan rencang-rencang ngangge basa niki.
Menawi mboten ngartos, basa alusan lan basa kasar niku saged ditingali saking kata-kata ingkang digunaaken.
Basa alusan (krama): Rama, panjenengan badhe tindak pundi?
Basa kasar (ngoko): Bapak, kowe arep lunga ngendi?
Basa alusan biasa digunaaken kaliyan bocah marang sesepuh, wong marang wong liya kang derajate luwih dhuwur, wong marang wong liya kang dipunkagumi, bawahan marang atasanipun.
Basa kasar biasa digunaaken kaliyan sesepuh marang bocah utawa wong kang luwih enom, guru marang muridipun, wong kang derajate dhuwur marang wong kang derajate luwih asor, atasan marang bawahan, lan wong marang rencange sedaya.
Piturut kula, sampun cekap kula bebasan nggih. Sakniki, kula badhe ngagem basa kasar, amarga kula luwih saged ngangge basa ngoko, supaya kula saged ngutaraken pikiranipun kula luwih becik.
Sebenere aku ora ngerti arep nulis apa. Bingung. Tapi, pengen wae nulis nganggo basa jawa meneh. Hehehe... Piye-piye, aku bangga karo basa jawa. Ana kanca kuliahku (wong palembang) sing ngomong: "Gue kalo denger orang ngomong bahasa jawa, masih mending lah daripada denger orang ngomong bahasa sunda. Apalagi kalo mereka keren, tapi ngomongnya bahasa sunda, berasa ga cocok aja gitu, jatoh pasarannya"
Hihihi, maaf buat orang sunda yah, sekedar pendapat pribadi dari temenku kok. Jangan dianggap serius.
Ngomong-ngomong soal kangen, aku kangen karo mak'e, karo pak'e, karo budhe lan pakdhe, tur yo kangen karo adhi-adhiku, kangen karo basa jawa, kangen karo kanca-kanca. Kangen lentog, kangen opor panggang, kangen lodeh tahu, kangen masakane budheku, kangen ponakanku sing ayu tur nggemesi.
Soal uripku, aku kepengen nglakokke macem-macem tapi yo ajeg, aku kekurung neng kene. Ra isa apa-apa. Isih akeh sing kudu tak lakoni sedurunge aku isa nglakokke sing tak pengeni. Nek tak itung-itung, kurang luwih yo aku kudu ngenteni 5 nganti 6 tahun meneh. Kesel si kesel, tapi yo piye meneh. Aku sakiki gek kelangan semangat, gek kueseeel jan ra karuan, bingung, kaya kelangan jeru banget tapi ra reti kelangan apa. Mulakno, aku kudu isa nganakke semangatku meneh, kudu mantepke ati kanggo nglakoni 6 tahun mengarep. Ora bakal gampang, apa meneh nek ndelok kondisiku sing saiki (Gusti Pangeran musti ngerti maksudku).
Aku pengen nangis yo rak iso, pengen gembar-gembor yo ra isa (isin). Pengen diemong tapi sing tak pengeni nggo ngemong ra teka-teka. Ya Allah Gustiiii... apa karepMu? apa karepku? Aku kangen tapi ora isa nyedhak. Aku malah terus mlayu saka sampeyan. aku kangen, kangen, kangen, kangen, kangen, kangen.... aku pengen nemokke sing bener, aku pengen ketemu. Masa'a njenengan mboten ngertos lan ngrasakaken... kula tresna marang njenengan.
Menawi mboten ngartos, basa alusan lan basa kasar niku saged ditingali saking kata-kata ingkang digunaaken.
Basa alusan (krama): Rama, panjenengan badhe tindak pundi?
Basa kasar (ngoko): Bapak, kowe arep lunga ngendi?
Basa alusan biasa digunaaken kaliyan bocah marang sesepuh, wong marang wong liya kang derajate luwih dhuwur, wong marang wong liya kang dipunkagumi, bawahan marang atasanipun.
Basa kasar biasa digunaaken kaliyan sesepuh marang bocah utawa wong kang luwih enom, guru marang muridipun, wong kang derajate dhuwur marang wong kang derajate luwih asor, atasan marang bawahan, lan wong marang rencange sedaya.
Piturut kula, sampun cekap kula bebasan nggih. Sakniki, kula badhe ngagem basa kasar, amarga kula luwih saged ngangge basa ngoko, supaya kula saged ngutaraken pikiranipun kula luwih becik.
Sebenere aku ora ngerti arep nulis apa. Bingung. Tapi, pengen wae nulis nganggo basa jawa meneh. Hehehe... Piye-piye, aku bangga karo basa jawa. Ana kanca kuliahku (wong palembang) sing ngomong: "Gue kalo denger orang ngomong bahasa jawa, masih mending lah daripada denger orang ngomong bahasa sunda. Apalagi kalo mereka keren, tapi ngomongnya bahasa sunda, berasa ga cocok aja gitu, jatoh pasarannya"
Hihihi, maaf buat orang sunda yah, sekedar pendapat pribadi dari temenku kok. Jangan dianggap serius.
Ngomong-ngomong soal kangen, aku kangen karo mak'e, karo pak'e, karo budhe lan pakdhe, tur yo kangen karo adhi-adhiku, kangen karo basa jawa, kangen karo kanca-kanca. Kangen lentog, kangen opor panggang, kangen lodeh tahu, kangen masakane budheku, kangen ponakanku sing ayu tur nggemesi.
Soal uripku, aku kepengen nglakokke macem-macem tapi yo ajeg, aku kekurung neng kene. Ra isa apa-apa. Isih akeh sing kudu tak lakoni sedurunge aku isa nglakokke sing tak pengeni. Nek tak itung-itung, kurang luwih yo aku kudu ngenteni 5 nganti 6 tahun meneh. Kesel si kesel, tapi yo piye meneh. Aku sakiki gek kelangan semangat, gek kueseeel jan ra karuan, bingung, kaya kelangan jeru banget tapi ra reti kelangan apa. Mulakno, aku kudu isa nganakke semangatku meneh, kudu mantepke ati kanggo nglakoni 6 tahun mengarep. Ora bakal gampang, apa meneh nek ndelok kondisiku sing saiki (Gusti Pangeran musti ngerti maksudku).
Aku pengen nangis yo rak iso, pengen gembar-gembor yo ra isa (isin). Pengen diemong tapi sing tak pengeni nggo ngemong ra teka-teka. Ya Allah Gustiiii... apa karepMu? apa karepku? Aku kangen tapi ora isa nyedhak. Aku malah terus mlayu saka sampeyan. aku kangen, kangen, kangen, kangen, kangen, kangen.... aku pengen nemokke sing bener, aku pengen ketemu. Masa'a njenengan mboten ngertos lan ngrasakaken... kula tresna marang njenengan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

